Wish List Buku Juni 2013

Wish List Buku..

Pengarang    NIZAR ABAZHAH
Penerbit    ZAMAN
Tahun Terbit    2013
Harga        Rp 60.000,00
Social Agency     Rp48.000,00
Pengarang    Martin Lings
Penerbit    Serambi
Tahun Terbit    2006
Harga        Rp 72.900
Bukabuku.com     Rp 61.965
Pengarang    Corona Brezina
Penerbit    Gramedia
Tahun Terbit  
Harga        Rp 40.000

Simpan Pinjamnya Pak Heri


Simpan Pinjamnya Pak Heri

Prolog
Beberapa hari lalu aku sedang melakukan penelitian di daerah Badran. Ada satu hal unik (menurutku) yang bisa menjadi pelajaran untuk membuka simpan pinjam atau melakukan pendampingan pada komunitas dengan simpan pinjam.

RW tempatku survei memiliki jumlah usaha simpan pinjam sebanyak 8 buah. Ada banyak program pengentasan kemiskinan warga kota yang masuk ke kampung ini. Hal itulah yang mengakibatkan banyaknya usaha simpan pinjam (berasal dari dana hibah atau pinjaman lunak dari pemerintah).

Latar Belakang
Permasalahan pengentasan kemiskinan ternyata tidak berhenti di pinjaman lunak dengan bunga 1% perbulan. Tidak sedikit warga yang melakukan kegiatan “buka lubang tutup lubang”. Ilustrasinya adalah ada warga yang membutuhkan modal usaha dengan meminjam dana di (misalnya) Simpan Pinjam A. Kemudian usahanya gulung tikar dan tidak dapat mengembalikan dananya. Karena dia bisa ikut simpan pinjam lain, dia meminjam uang di Simpan Pinjam B untuk menutupi hutangnya. Tidak berhenti disitu. Untuk modal usaha lagi dia meminjam uang ke Simpan Pinjam C. Begitu seterusnya.

Pernah suatu waktu ketua RW dan salah satu warga menginisiasi penyatuan simpan pinjam. Bukan dalam arti menggabungkan, tetapi peminjaman dilakukan dalam satu forum atau satu atap, koperasi berbadan usaha. Diharapkan warga hanya memiliki satu rekening peminjaman. Tetapi usul ini ditolak oleh pengurus PKK. Hal ini dikarenakan (mengutip dari wawancara) mereka tidak biasa dengan sistem baru tersebut. Kelompok Pra Koperasi tersebut memang telah berdiri, tetapi penyatuan ini belum dapat dilakukan.

Simpan Pinjamnya Pak Heri
Berbeda dengan hal diatas, ada salah satu simpan pinjam unik milik Pak Heri, Ketua RT 47. Beliau mendapatkan program simpan pinjam tersebut dari pemerintah melalui kegiatan KUBE FM. Dana hibah yang diperoleh sebesar 15 juta dengan anggota 10 orang. Dalam simpan ini, peminjam diharuskan memiliki catatan pemasukan dan pengeluaran setiap hari. Catatan tersebut oleh Pak Heri digunakan untuk syarat peminjaman selanjutnya. Sebenarnya catatan ini digunakan untuk mengukur kemajuan atau kemunduran usaha. Seperti sebelumnya, banyak masyarakat yang memiliki usaha tetapi tiba-tiba gulung tikar. Dengan adanya catatan pemasukan dan pengeluaran ini dapat dilihat berapa keuntungan bersih setiap hari. Dari keuntungan tersebut berarti pengeluaran diluar usaha (untuk keperluan pribadi) tidak boleh melebihi keuntungan. Uang yang diterima bukan merupakan keuntungan murni tetapi termasuk modal untuk besok pagi. Hal inilah yang merupakan kebanyakan penyebab gulung tikarnya usaha. Semua pemasukan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga modal usaha untuk esok hari tidak ada.

Strategi Manajemen Usaha
Setiap hari peminjam dana di KUBE FM tersebut melakukan pembukuan. Pembukuan (yang berbentuk catatan) tersebut minimal berisi tabel pemasukan dan pengeluaran. Pak Heri sendiri menyarankan untuk mencatat secara detail barang apa saja yang terjual. Sehingga dapat dilihat barang apa saja yang laku dan tidak laku. Barang yang laku dapat ditambah stoknya, sedangkan yang tidak terlalu laku dapat dikurangi stoknya. Untuk melakukan pemantauan, kelompok ini melakukan pertemuan rutin. Pertemuan rutin ini juga unik. Pertemuan ini otomatis dilakukan, tanpa adanya undangan dan pemberitahuan. Dilakukan setiap tanggal 14 di Balai RT. Tanpa ada konsumsi juga. Hal yang dibahas dalam pertemuan adalah pemantauan catatan pemasukan dan pengeluaran setiap hari. Jika ada usaha yang dirasa tidak memberikan keuntungan. Pemiliki usaha diarahkan untuk mengganti usahanya atau bekerja lebih keras lagi. Satu hal yang unik lagi adalah, tidak ada yang sewot dengan sistem simpan pinjam seperti ini. Masyarakat yang mengikuti simpan pinjam ini mengaku merasa nyaman dan berterima kasih ke Pak Heri, karena diajarkan untuk menilai usahanya sendiri, maju atau tidak.

Epilog
Menurutku ini unik. Memberi bantuan ke masyarakat untuk berdaya, tapi tidak sekedar memberi. Tapi memahamkan mereka.  Memberdayakan mereka. Seperti kata Kartasasmita (1997), upaya memberdayakan masyarakat dapat dilihat dari tiga sisi yaitu, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling), memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering), dan melindungi masyarakat. Menciptakan, memperkuat, dan melindungi usaha masyarakat dengan cara pembukuan atau manajemen usaha.
 
Catatan Pengeluaran Pemasukan Setiap Hari





*semoga bisa menjadi alternatif cara pendampingan usaha simpan pinjam :D

Robot Restoran

 

Robot Restoran

Malam tadi ada traktiran teman yang berulang tahun, sekaligus syukuran kelulusan. Dari nama tempatnya kukira tempat makan biasa, berbentuk gubuk dengan pemancingan ikan. Ternyata sampai disana tempatnya sangat wahh. Mobil-mobil yang terparkir berasal dari plat diluar jogja. Saat masuk ke dalam, ada bule-bule yang menikmati olahan ikan tempat makan tersebut. Beberapa pribumi yang ikut dalam rombongan bule merekam semua aktivitas makan bule tersebut dan pelanggan lain. Sepertinya bule-bule ini orang penting, dan agar keamanannya terjaga, pribumi ini berusaha menangkap gambar wajah semua orang di restoran.

Saya dan 14 orang lain yang sudah berkumpul duduk di tengah ruangan. Tepat pukul 7 malam, hidangan mulai disajikan. Dimulai dengan air putih, es teh, kompor (yang ternyata untuk memanaskan iga), nasi, sayuran, sayur asem, dan yang terakhir semua masakan ikan, ikan goreng, ikan asam manis, dan ikan-ikan yang lain.

Penyajiannya cepat sekali, entah karena terlatih atau sudah sering menyajikan secara ba bi bu. Waktu saya sedang ngobrol tiba-tiba ada ikan datang dari belakang. Mirip seperti lomba lari, jadi dari dalam, pelayan restoran tersebut sebenarnya sudah bersiap-siap menghantarkan hidangan, ketika peluit dibunyikan mereka berlari menuju meja kami membawa ikan dan teman-temannya,, wuzz wuzzz wuzzz..

Ketika yang dituakan di antara kami berlima belas selesai memimpin doa, ikan-ikan mulai terkoyak untuk dimakan bersama nasi.

Selesai makan acara dimulai, beberapa teman kembali ke mobil dan membawa kue ulang tahun beserta kado. Kue mulai dipotong dan dibagikan ke 14 orang tersebut. Sewaktu memakan potongan kue itu ada beberapa tamu yang selesai makan di depan tempat dudukku. Saat mereka keluar ruangan, tiga orang pelayan mulai datang membawa segepok peralatan pembersih. Satu orang membereskan piring-piring, satu orang membawa semprotan, dan satu orang lainnya membawa segepok peralatan dan tempat piring kotor. Kalau dihitung mungkin cuma satu sampai dua menit, ketika pelanggang itu pergi, meja telah bersih kembali.

Mungkin SOP ya yang membuat mereka bekerja secara cepat. Penyajiannya seperti hantu, datang tiba-tiba membawa masakan ikan. Kemudian berlalu tanpa meninggalkan debu. Sewaktu selesai makan pun, tepat ketika tamu melewati pintu, alarm pembersih meja berbunyi, tiga sampai empat orang dengan cepat menyapu piring-piring kotor diatas meja.

Berbeda dengan tempat makan tersebut, di tempat makan ayam bakar di dekat tempat makan tadi agak berbeda pelayanannya. Waktu itu saya diundang untuk gathering forum regional yogya. Waktu itu kacau banget, tempatnya sampai tidak muat, ambil makan harus berdesak-desakan, dan makanpun saya harus berdiri. Yang menarik adalah pelayannya terlihat santai ketika mengantarkan makanan ayam bakar dan pecel yang dipesan. Pelan-pelan mereka memasukan makanan tersebut ke tempat lesehan yang menjadi tempat gathering. Sewaktu selesai makan pun, hampir lima menit ketika saya ngobrol dan foto-foto di tempat parkir, baru satu pelayan yang membersihkan piring-piring kotornya.

Entah kenapa ya, saya lebih suka tempat makan yang kedua. Sewaktu acara peniupan lilin di tempat pertama, saya memperhatikan muka-muka pelayan disana, serius semuanya. Hanya beberapa yang berdiri di dekat dapur untuk menata piring bersih yang terlihat ngobrol dan tertawa bersama temannya. Kadang kasihan juga ketika melihat pelayan yang langsung membersihkan meja agar dapat digunakan tamu lain. Secara perhitungan ekonomi sih memang seharusnya begitu, meja harus cepat bersih, jadi ketika ada tamu, meja tersebut dapat dipakai lagi untuk menghasilkan uang. Tetapi beberapa pelayan mukanya terlihat agak tertekan melakukan kegiatan tersebut, hehe8 atau perasaan saya saja ya. Melihat ramainya restoran pertama, sepertinya mereka tidak punya pilihan lain, karena walaupun tugasnya berat karena SOP, gaji yang mereka dapatkan mungkin lumayan besar. Yaaah daripada lu manyun dirumah gak kerja.. hehe8

Sampah Visual


Sampah Bagian Satu: Sampah Visual

Sebulan lalu ada gerakan #SampahVisual yang membersihkan iklan di jembatan kewek. Sampah visual dalam hal ini diartikan sebagai suatu pemandangan yang tidak seharusnya, misalnya benda cagar budaya yang dikomersilkan. Jadi ceritanya Axis mengecat hampir seluruh penopang jalan kereta api di atas jembatan kewek. Hal ini kemudian dinilai mengkomersilkan tempat budaya oleh sebagian orang. Sebagian banyak orang tersebut berpendapat bahwa tempat cagar budaya, jembatan kewek tidak boleh dikomersilkan, termasuk dicat untuk papan iklan. Kenapa sebagian banyak orang? Karena ada beberapa bagian kecil orang seperti saya yang tidak setuju.

Gerakan pengecetan ini dilakukan pada malam serangan 1 maret 2013 kalau tidak salah. Cat Axis berwarna ungu merah muda kemudian berganti menjadi putih. Saya cukup menyayangkan hal tersebut. Pengecatan menjadi warna putih itu belepotan, dibeberapa titik ada yang dicat satu lapis, beberapa ada yang beberapa lapis. Oke mungkin ini hanya “pertanda” atau #kode bagi pemerintah kota untuk bergerak memperbaiki cat tersebut dengan cat dan pengecatan yang lebih baik. Sudah menjadi berita umum kalau pemerintah itu memiliki dana yang terbatas dalam melakukan pekerjaan apapun. Dalam hal ini saya berpositif thinking, pemerintah pasti tidak memilik dana untuk mengecat atau merawat jembatan tersebut. Jadi menurut saya, jembatan itulah yang harus merawat dirinya sendiri, atau masyarakat umumlah yang merawat jembatan cagar budaya tersebut.

Salah satu cara masyarakat umum merawat jembatan cagar budaya tersebut salah satunya mungkin dengan gerakan Sampah Visual. Membersihkan apa yang mereka sebut “sampah” yang menempel di jembatan tersebut. Membersihkan berarti membuat jembatan menjadi bersih, tidak malah menjadi lebih kotor atau belepotan. Kalau ada waktu, coba perhatikan ada beberapa bagian yang dicat satu lapis dan beberapa lapis. Tidak hanya itu, di beberapa bagian masih terdapat nama-nama gang preman yang dipylox berwarna warni. Hal yang unik membuat geli adalah, gerakan ini berusaha membersihkan provider yang beriklan di penopang jembatan tersebut, eeeh yang mengecat juga tidak mau ketinggalan untuk beriklan (coba perhatikan tulisan pengumuman di penopang bagian barat, ada sebuah merek perkumpulan yang ikut dalam gerakan kegiatan ini yang ingin ikut2an eksis beriklan di jembatan cagar budaya, haha8 ironi)..

Menggantungkan pada pemerintah untuk merawat jembatan, menurut positive thinking saya adalah tidak mungkin. Mempersilahkan masyarakat umum untuk merawat jembatan tersebut, menurut visual saya juga tidak mungkin. Masyarakat umum sendiri malah meminta pemerintah -yang keterbatasan dana- untuk merawatnya. Ada hal gila yang sejak dua tahun lalu terlintas di pikiran saya, Commercial City, suatu waktu saya akan menulisnya dengan detail. Salah satu unsur dari Commercial City adalah membiarkan bangunan atau infrastuktur perkotaan “menghidupi dan atau merawat” dirinya sendiri.

Contoh dalam kasus ini adalah membiarkan bangunan cagar budaya jembatan kewek membersihkan atau merawat dirinya sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara (salah satunya) mengkomersilkan jembatan tersebut, dengan cara santun tentunya. Aplikasinya semacam iklan Axis tersebut, mengecat atau merawat atau memperbaiki cat yang sudah terkelupas dengan mengecat ulang. Tentu saja semua itu harus berorientasi pada perawatan benda cagar budaya.

Pertama, dalam pengecatan harus semua bagian di cat, penopang jembatan, jembatannya, dan jalur rel kereta apinya. Kalau ini dianggap melanggar perawatan benda cagar budaya, ya cukup sebagian yang dicat Axis, sebagian di cat dengan cat yang sesuai dengan perawatan benda cagar budaya.

Kedua, desain pengecatan harus sesuai dengan kultur budaya Yogyakarta, maksudnya memakai desain yang dekat dengan budaya jawa, tokoh wayang, batik, atau tujuan wisata Yogya. Desain Axis dulu itu saya nilai bagus, tapi sayangnya warnanya ungu merah muda, bukan warna yang dekat dengan Yogyakarta.

Ketiga, pendapatan yang didapatkan dari penempelan iklan diinvestasikan untuk merawat jembatan ketika pihak Axis atau pengiklan tidak memperpanjang kontrak iklan. Oh iya, dalam penempelan iklan ini harus terdapat kontrak kapan iklan ini akan berakhir. Waktu kontrak harus disesuaikan dengan jangka waktu tahan lamanya cat, biasanya untuk warna terang selama 5 tahun, dan jika akan diperpanjang pengiklan harus mengecat ulang iklan tersebut lagi, semua bagian tidak terkecuali. Hal ini dikarenakan agar warna cat tidak terlihat luntur atau terlihat lusuh yang membuat kesan bangunan tidak terawat.

Dengan cara diatas, bangunan atau infrastruktur yang tidak terawat tapi berpotensial menghasilkan pendapatan dapat “menghidupi dirinya sendiri” tanpa bantuan dari pemerintah yang sukanya keterbatasan dana atau dari masyarakat yang sukanya menuntut tanpa bertanggung jawab. Sebenarnya banyak bagian di Kota Yogya yang membentuk sampah visual seperti ini. Kali ini saya mendefinisikan sampah visual sebagai suatu bentuk yang tidak menarik bagi mata, misalnya dinding bangunan yang tidak terawat, lusuh, kotor atau dilukis mural yang berantakan tidak bertanggung jawab.

Kalau ada waktu mungkin bisa berkeliling di sekitar Tugu Jogja sampai simpang empat Gondomanan. Di sebelah utara Tugu Jogja terdapat dinding yang di mural tanpa ber moral. Bahkan bagian dinding atas yang sudah dicat bagus oleh XL malah dilempari kantong berisi cat. Sampai sekarang saya tidak mengerti apa latar belakang mengapa meraka melakukan itu *facepalm*. Kemudian dinding di utara timur Hotel Melia Purosani, timur Masjid juga terdapat mural yang ...ahh ditempel berbagai macam poster yang ahh...

Baca juga #ProjectLivingWall yang saya ajukan ke Coca Cola dalam menangani mural yang tidak ber moral tersebut..

Mahasiswa Sampah


Suatu hari aku melewati simpang tiga UIN Jogja. Kejadian itu sudah lama, sekitar 2 tahun lalu. Hal yang paling kuingat, saat itu jalanan basah karena baru saja hujan. Jalanan ramai oleh kendaraan. Macet karena banyaknya mobil dan motor yang terjebak lampu lalu lintas. Anehnya kemacetan ini tidak seperti biasanya, panjaaang. Dengan sabar akhirnya aku melalui lampu lalu lintas. Waktu itu aku sadar, ternyata bukan lampu lalu lintas yang menyebabkan kemacetan. Ada banyak mahasiswa yang melakukan demonstrasi di tengah persimpangan tersebut. Dengan membawa papan dan kertas mereka berteriak-teriak meminta penurunan harga bbm kalau tidak salah. Salah satu yang menarik perhatianku adalah adanya ban bekas yang dibakar di tengah persimpangan tersebut. Iyaa,, ban bekas mobil yang dibakar.

Entah apa maksud pembakaran ban bekas tersebut. Sampai saat ini aku tidak bisa memasuki alam pikiran mereka, kenapa harus membakar ban bekas. Kalau ada yang belum pernah melihatnya, aku ceritakan. Jadi ban bekas itu kalau dibakar akan mengeluarkan asap hitam pekat. 1-2 menit berada di sekitar pembakaran ban tersebut baju akan terkena bau asap tersebut. Hal itu menunjukan asap itu telah menempel di baju yang terpakai. Sebagai perbandingan, plastik itu kalau dibakar akan menjadi dioxin, kira-kira racunnya 350x asap rokok. Jadi kalau ban bekas dibakar, racunnya bisa lebih dari itu. Aku tidak tahu tepatnya karena aku bukan mahasiswa kimia . Mahasiswa? Iyaaa,, yang demo itu mahasiswa, jadi yang membakar ban bekas itu mahasiswa juga. Jadi tau kan, mengapa sekarang banyak orang sakit kanker. Bahkan ada kasus dimana anak-anak sudah ada yang memiliki penyakit kanker? Ya itu salah satunya ulah para pembakar ban bekas tersebut... aku tidak mengatakan mahasiswa lho.. sebagian mahasiswa.. mahasiswa sampah tepatnya.. 

Oiya, satu lagi, di Sleman DIY, sekarang akhirnya orang-orang itu bisa didenda atau dipenjara. Peraturan Daerah Kabupaten Sleman No 14 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Persampahan, Pasal 18 ayat d menyatakan bahwa

“Pemerintah Daerah, masyarakat, penyedia jasa pengelolaan persampahan, dan pelaku usaha dan atau kegiatan dalam pengelolaan persampahan dilarang membakar sampah di tempat terbuka yang dapat menimbulkan polusi dan atau mengganggu lingkungan”

 Lalu dijelaskan pula pada Pasal 1 ayat 5,
“Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau dari proses alam yang berbentuk padat”

Dari kedua pasal dan ayat tersebut secara jelas mengatakan bahwa sampah yang berarti sisa kegiatan sehari-hari manusia (memakai kendaraan seperti mobil itu salah satu kegiatan sehari-hari manusia) dilarang dibakar di tempat terbuka (simpang jalan itu termasuk tempat terbuka, karena masyarakat bebas mengaksesnya).

Lalu di Pasal 34 juga disebutkan bahwa

“Setiap orang atau badan yang melakukan pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksus dalam Pasal 18 diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)”

Jadi bagi orang-orang yang melakukan pembakaran sampah di tempat terbuka dapat dipidana dengan ancaman pidana kurungan 3 atau denda 50 juta :D.

Ahh tapi sudahlah.. kalo mahasiswa yang melakukan demo, kemudian membakar ban bekas, kan mereka sedang memperjuangkan kepentingan rakyat juga, jadi agak aneh juga kalau mereka harus dipidanakan karena membakar ban bekas.
Karena apa? Karena mereka mahasiswa, dan mahasiswa itu tidak pernah salah, karena mereka selalu memperjuangkan kepentingan rakyat...
Rakyat yang mana bossss???  Rakyat yang merasa membakar ban bekas itu tidak membahayakan kesehatan :D

#3tahunKeepCalmAndPostingBlog

ID


Ini adalah superhero baru penemuan saya. Terinpirasi dari film "Tanah Surga Katanya...". Dalam film itu diceritakan tentang kehidupan masyarakat Indonesia di perbatasan. Perbedaan infrastruktur yang mencolok terjadi antara desa di Indonesia dan Malaysia. Beberapa warga Indonesia memilih bekerja dan hidup di Malaysia. Beberapa lagi memilih menetap di Indonesia dengan segala keterbatasan dan atas dasar cinta kepada tanah air. Sedangkan bagi yang tinggal di Malaysia memiliki pendapat untuk mensejahterakan anak-anaknya agar mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Sebuah pilihan yang sulit ketika kecintaan pada tanah air harus berhadapan dengan pendidikan. Memilih cinta tanah air tetapi sulit mendapatkan pendidikan atau pergi ke negara lain untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Akhirnya semua pilihan akan menjadi baik jika semua pilihan berakhir untuk mensejahterakan Bangsa Indonesia, Rakyat Indonesia tepatnya.

Suatu hari kamu akan memperjuangkan merah putihmu sendiri, sesuai dengan bidang yang kamu tekuni. Pahlawan yang cinta tanah air atau Pelajar yang mengembangkan ilmunya di tanah air.

ID

Target Maret 2013

Selamat bulan Maret semuaaa,,
Di bulan Maret ini akan dimulai post yang lebih serius.
Ada 2 macam seri post yang akan saya tulis, yaitu macam-macam program pengembangan Kampung Badran dan macam-macam Kampung Kreatif di Jogja.

Program pengembangan Kampung Badran merupakan materi tugas akhir saya. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini. Salah satunya pernah saya post dengan judul “Simpan Pinjam nya Pak Heri”. Masih terdapat 22 program lainnya. Program tersebut adalah:
-    Program dalam bidang Kesehatan, Posyandu Balita “Jinten II” dan Rumah Srikandi.
-    Program dalam bidang Keagamaan , TPA “Jampi Stress”, Kelompok Pengajian “Thoriqul Zannah”, Kelompok Pengajian “Khaerunnisa”, Kelompok Pengajian “Al Ma’wa”, dan Kelompok Pendalaman “Iman Santa Monica” dan “Santo Bafo”.
-    Program dalam bidang Pemberdayaan Masyarakat, PAUD “Tumbuh Kembang Ceria”, TBM “Bodronoyo”, Forum Anak Kampung Badran “Patriot”, BKR “Sekar Melati”, PKBM “Griya Mandiri”, dan Kelompok Lansia “Kartini”.
-    Program dalam bidang Pertanian, Kelompok Tani “Tani Makmur”.
-    Program dalam bidang Ekonomi, Kelompok “Griya Rumpun” dan Kelompok Pra Koperasi “Panca Arta”.
-    Program dalam bidang Pengendalian Kemiskinan, UEP “Tirto Winongo”, KUBE FM “Berhati Nyaman 29”, dan Desa Prima “Dahlia”.
-    Program dalam bidang Pengelolaan Sampah , KSM Lintas Winongo.
-    Program dalam bidang Penataan Lingkungan, Penataan Bantaran Sungai.
-    Program dalam bidang Penguatan Kelembagaan Sosial, PKK, dan Dasawisma

Sedangkan seri post macam-macam Kampung Kreatif di Jogja adalah sebagai berikut:
-    Kesenian, RW 05 Kricak Karawitan Mardawa Laras, RW 01 Pakuncen Paguyuban Karawitan Wira Budaya Rini, RW 08 Pajeksan Babad Kampung Pajeksan, RW 25 Notoyudan Kampung Seni Budaya, RW 01 Ngampilan Kelompok Tani Sitigunan, dan RW 01 Dipowinatan Kampung Wisata Budaya.
-    Lingkungan, RW 10 Cokrodiningratan KLH Bumi Lestari, RW 11 Jogoyudan Takakura, RW 02 BenerResik Agawe Sehat, RW 1,2,4,7,8,9 Suryatmajan Penataan Bantaran Sungai, RW 11 Badran Lintas Winongo, RW 11 Wirobrajan Lubang Resapan Biopori, RW 10 Rotowijayan Kawasan Bebas Rokok, RW 04 Tejokusuman Kelompok Tani Tejoarum, RW 06 Gamelan Kebersihan dan Penghijauan, RW 14 Suryodiningratan Pagar hidup, RW 11 Terban Belik Hibsa, RW 04 Kotabaru Arang Daun Kering, RW 08 Ratmakan Penataan kawasan bantaran sungai, RW 02 Glagahsari Kelompok Wanita Tani Sari Kismo, RW 02 Surokarsan Pengelolaan Sampah untuk kompos, RW 11 Prawirodirjan Pengelolaan Sampah, RW 08 Pandeyan Kampung Hijau, RW 13 Prenggan IPAL.
-    Pendidikan, RW 06 Tegalrejo PAUD Amalia, RW 10 Purwokinanti Kelompok Tani Purwotani, RW 06 Patangpuluhan Musholla A’laudin, RW 03 Bausasran Perpustakaan Kemangi 3, RW 05 Tahunan Peningkatan SDM, RW 13 Tegalpanggung Perpustakaan Wredha Pustaka, RW 05 Tahunan PAUD Nursiwi, RW 10 Sanggrahan Pamukti Masjid At Taqwa.
-    Keuangan, RW 20 Sutodirjan Lembaga Pengembangan Desa, UPPKS Melati 1 Kelurahan Klitren.
-    Komunikasi, RW 02 Terban Panagati FM, RW 09 Taman Taman Kampung Cyber, RW 05 Demangan Radio Suara Demangan.
-    Kesehatan, RW 09 Badran Barisan Hadang Narkoba, RW 10 Jogokaryan Paguyuban Pangrukti Laya, RW 16 Baciro Ternak Kelinci, RW 02 Semaki Pengobatan Gratis, RW 10 Purbayan Tanggap Flu Burung
-    Peternakan, RW 15 Gedongkiwo Kelompok Tani Lobster Air Tawar Ngudirejeki, RW 04 Rejowinangun Kelompok Usaha Amanah
-    Sosial Masyarakat, RW 02 Gunungketur Pos Kamling, RW 08 Sorosutan WKSBM Warga Rukun


Semua program-program pengembangan Kampung Badran akan coba dipost sebagai bahan pembelajaran. Sedangkan Kampung Kreatif menunggu survei untuk dibuktikan kebenarannya. Jadi selamat menunggu.. :D